Cara Memilih Jahe Berkualitas

Budidaya jahe baik biasa maupun jahe merah jika dikelola dengan baik dapat mendatangkan keuntungan yang menggiurkan.

Pengelolaan budidaya tanaman jahe harus dimulai dengan memilih bibit jahe yang memenuhi berbagai syarat di antaranya mutu genetik, mutu fisiologik serta mutu fisik. Mutu fisik adalah standar yang lebih mudah untuk diamati, yakni bibit jahe harus bebas hama dan penyakit.

Pemilihan bibit jahe secara fisik dapat mempertimbangkan beberapa persyaratan pokok yakni bibit diambil langsung dari kebun dan bukan dibeli dari pasar, bibit tanaman harus sudah cukup tua dengan umur 9-10 bulan, serta bibit berasal dari tanaman sehat dengan kulit rimpang tidak terluka atau lecet.

Memilih bibit jahe secara vegetatif dengan memakai potongan-potongan rimpangnya untuk dijadikan benih harus dilakukan dengan cermat, melalui beberapa tahap sebagai berikut:

Pilihan varietas

Pilihan varietas jahe sebagai bibit harus ditetapkan sesuai dengan tujuan produksi. Varietas jahe besar sangat sesuai untuk memproduksi rimpang segar, sedangkan varietas jahe merah cocok untuk membuat rempah-rempah dan minyak atsiri.

Cukup umur

Bibit jahe dipilih dari tanaman yang berumur 9 hingga 10 bulan, sehat, tidak terluka atau lecet dengan kandungan serat yang tinggi dan kasar. Warna kulit bagus dan mengkilap serta ada tanda bertunas.

Rimpang bebas organisme pengganggu tanaman (OPT)

Sumber rimpang untuk bibit harus bebas dari organism pengganggu tanaman seperti bakteriPseudimonas solanacearum, jamur Rhizoctonia solani, hama lalat rimpang Mimegralla coerukitronsserta Eumerus figurans.

Syarat ukuran bibit

Bibit stek rimpang harus memiliki sedikitnya 3 mata tunas, dengan panjang 3-7 cm serta memenuhi kisaran berat 25-80 gram per potongnya. Rata-rata per hektar akan dibutuhkan bibit jahe segar antara 1-3 ton, namun akan sedikit bervariasi tergantung kebutuhan, ukuran bibit klon dan jarak tanam.

Tahap sortasi, penyimpanan serta pengujian

Pada rimpang yang baru di panen untuk dijadikan benih, ada beberapa tahap yang harus dilewati sebagai berikut :

  • Sortasi – Tujuan sortasi adalah untuk mendapatkan jaminan kepastian mutu bibit, keaslian maupun keseragaman. Rimpang jahe baru panen harus segera dibersihkan, kemudian rimpang-rimpang tersebut dijemur pada lantai jemur selama 4-6 hari, minimal 4 jam per hari. Sortasi baru dilakukan setelah rimpang benar-benar kering. Dasar sortasi adalah dengan melihat penampilan/bentuk, ukuran serta warna bibit. Pastikan rimpang bibit tidak lecet atau memar, bersih dan bebas dari hama dan penyakit.
  • Penyimpanan –Rimpang bibit yang lolos sortasi, kemudian disimpan di tempat yang teduh, tidak langsung kena sinar matahari serta kering. Pentimpanan rimpang cukup dengan ditumpuk namun harus dipastikan sirkulasi udara tetap terjaga.
  • Pengujian –Pengujian umumnya jarang dilakukan padahal sangat penting. Dasar pengujian adalah kesehatan bibit dan daya tumbuhnya. Bibit yang lolos pengujian harus sehat (tidak berlendir, membusuk dan memiliki bercak-bercak baik pada kulit rimpang maupun pada bagian dalamnya). Daya tumbuh minimal 85 % untuk tunas yang telah mengeluarkan daun pertama.

Demikianlah tips dan cara memilih bibit jahe yang baik dan berkualitas. Kesuksesan dari budidaya tanaman jahe dapat dilihat dari hasil panennya dan hasil panen yeng berlimpah akan didapatkan dari bibit yang berkualitas. Semoga bermanfaat.

SUMBER

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s